Kampung Naga, Adat Istiadat yang Masih Terjaga
Kampung Naga​ adalah perkampungan yang diduduki oleh sekelompok masyarakat di dalamnya. Mereka sangat kuat dalam memelihara adat istiadatnya seperti adat Sunda. Misalnya pemukiman Badui, Kampung Naga jadi objek kajian dari Antropologi tentang kehidupan masyarakat pedesaan Sunda di masa peralihan dari pengaruh Hindu ke pengaruh Islam yang ada di Jawa Barat​.

Jika anda berkunjung ke Malang, pasti sudah sering mendengar kampung warna-warni. Ke lain daerah pun sekarang juga sudah memiliki daya tarik tersendiri. Banyak masyarakat dalam lingkup kecil sekarang berlomba menunjukkan kebolehan kampungnya untuk menarik para wisatawan. Lalu bagaimana dengan Kampung Naga ?

Kampung Naga adalah perkampungan yang diduduki oleh sekelompok masyarakat di dalamnya. Mereka sangat kuat dalam memelihara adat istiadatnya seperti adat Sunda. Misalnya pemukiman Badui, Kampung Naga jadi objek kajian dari Antropologi tentang kehidupan masyarakat pedesaan Sunda di masa peralihan dari pengaruh Hindu ke pengaruh Islam yang ada di Jawa Barat.


Fasilitas di Kampung Naga

Meskipun Kampung Naga adalah objek wisata yang populer di Jawa Barat, saat ini memang tidak ada aliran listrik di kawasan wisata. Jika anda ingin menginap di kampung ini, anda harus meminta ijin kepada kuncen atau sesepuh kampung jauh – jauh hari sebelum datang menginap dan bersiap dengan fasilitas seadanya. Hal ini sangat dekat dengan alam.

Sebagian besar, penduduk dari Kampung Naga menggunakan bahasa Sunda. Oleh karena itu, anda yang tidak bisa berbahasa Sunda bisa menggunakan jasa pemandu. Di lokasi banyak sekali pemandu dengan tarif yang bisa negosiasi. Kampung Naga ada di bawah jalan raya, jauh dari keramaian jalan. Jika anda membawa kendaraan pribadi, anda tak perlu khawatir sebab di pintu gerbang Kampung Naga ada tempat parkir yang luas dan menjual souvenir anyaman khas Tasikmalaya buatan dari penduduk Kampung Naga dan ada juga warung makan.

Sejarah Kampung Naga

Salah satu versi menyatakan sejarah dari Kampung Naga ini berasal dari kewalian Syeh Syarif Hidayatullah atau lebih dikenal dengan Sunan Gunung Jati. Beliau adalah abdiya bernama Singaparana yang ditugasi menyebarkan agama Islam ke sebelah Barat. Setelah sampai di daerah Naglasari, Singaparana oleh masyarakat setempat disebut Sembah Dalem Singaparana.

Satu hari beliau mendapat ilapat atau petunjuk yang mengharuskannya bersemedi. Beliau dikatakan harus mendiami satu tempat yang sekarang bernama Kampung Naga. Nenek moyang Kampung Naga ada yang paling berpengaruh dan berperan bagi masyarakat Kmapung Naga yaitu Sa Naga. Sa Naga yakni Eyang Singaparana atau Sembah Dalem Singaparana dan disebut lagi Eyang Galunggung. Ini dimakamkan di sebelah Barat Kampung Naga. Makamnya dianggap keramat dan diziarahi ketika adanya upacara adat bagi semua keturunannya.

Namun, tentang kapan beliau meninggal tidak diketahui secara pasti sebab tidak satu pun dapat mengetahuinya. Menurut kepercayaan setempat, nenek moyang tidak meninggal melainkan raib dengan tanpa meninggalkan jasadnya. Dan disinilah masyarakat Kampung Naga menganggapnya makam dan diberi tanda atau petunjuk kepada keturunan masyarakat setempat.

Terkenal beberapa nama para leluhur berasal dari masyarakat Kampung Naga yang disegani dan dihormati semisal, Pangeran Kudratullah yang dimakamkan di Gadog, Kabupaten Garut, seorang guru yang menguasai pengetahun Agama Islam. Ada juga Raden Kagook Katalayah Nu Lencing Sang Seda Sakti yang dimakamkan di Taraju, Kabupaten Tasikmalaya terkenal dengan penguasaan ilmu kekebalan. Ratu Ineng Kudratullah atau sering disebut Eyang Mudik Barata Karang dan masih ada beberapa lagi.

Hunting Foto di Kampung Naga

Daya tarik utamanya adalah di kehidupannya yang unik dari komunitas – komuntas di kampung ini. Kehidupan mereka seringkali bisa berbaur dengan masyarakat modern dan beragama islam anmun juga masih kuat dalam menjaga adat istiadatnya. Ada upacara adat ketika upacara bulan mulud akan dilaksanakan pedaran atau pembacaan sejarah nenek moyang. Proses ini dimulai dengan melakukan mandi di sungai ciwulan, pengunjung harus pada aturan disana jika ingin mengikutinya.

Bentuk bangunan disini semuanya sama. Baik itu masjid, rumah atau balai pertemuan dan lumbung padi. Atapnya berasal dari daun rumbia, daun kelapa, injuk sebagai penutup bumbungan. Sementara itu untuk pintu bangunannya terbuat dari serat rotan dan semua bangunan menghadap Utara atau Selatan. Anda bisa menemukan tumpukan batu yang tersusun rapi dan bertata letak bahan yang alami. Ini disebut ciri khas arsitektur dan ornamen – ornamen di kampung setempat.


Harga Tiket Masuk dan Jam Buka Kampung Naga

Untuk berkunjung, anda tidak perlu membayar tiket masuk. Namun, disarankan untuk berkunjung di hari selain hari selasa, rabu dan sabtu. Ini dikarenan hari – hari tersebut masyarakat setempat sedang melakukan ritual menyepi. Ritual ini usaha menghindari perbincangan tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan adat istiadat dan asal usul atau sejarah kampungnya.

Akses Lokasi ke Kampung Naga

Kampung Naga berada di Jalan Raya Garut, Tasikmalaya dimana ini membuat tempatnya jadi mudah untuk dijangkau dengan kendaraan pribadi atau angkutan umum. Kampung ini terletah di lembah Sungai Ciwulan yang berjarak kurang lebih 500 meter di bawah jalan raya.

Untuk jarak tempuh dari Kota Tasikmalaya sekitar 30 km dan 26 km dari Kota Garut. Sementara dari Bandung, anda bisa menempuh perjalanan 90 km ke lokasi ini.

Tips Berkunjung ke Kampung Naga

Jika anda membaca beberapa hal di atas, yang harus diperhatikan pertama kali adalah hari dimana anda berkunjung. Datanglah ketika hari Senin, Kamis, Jumat dan Minggu jika anda ingin berbincang dengna masyarakat disana. Mereka masih memegang teguh adat istiadatnya termasuk hari dimana mereka menyepi.

Temuilah sesepuh untuk meminta ijin tinggal di lokasi dan menyewa jasa pemandu. Jika anda bisa berbahasa Sunda, maka tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Sesuaikan sikap dan perilaku kita dengan kebiasaan masyarakat setempat. Selain akan menjadi pengalaman yang berbeda, tidak sopan rasanya jika kita membuat aturaan sendiri padahal berada di lingkungan baru. Jika anda ingin mendokumentasikan perjalanan atau kehidupan disana, anda harus melakukan permintaan ijin dulu dari sesepuh kampung agar tidak terjadi salah paham.

Indonesia selain tempat – tempat wisatanya, juga terkenal dengan budaya leluhurnya. Jika anda ingin merasakan atau jadi bagian di dalamnya, berkunjunglah ke Kampung Naga, Tasikmalaya.

Loading...

Artikel Terkait